Jumat, 31 Agustus 2012

Angan Belaka ataukah Sejatinya Rasa



Aku punya rasa aku punya cinta
Akanku genggam ia sekuat tenaga

Mungkin inikah sejatinya rasa?
Aku tahu, aku tak kan pernah bisa mendapatkannya
Menyapa, menatap matanya, menggenggam tangannya
Sampai mati aku tak kan pernah bisa
Namun aku tak rela bila rasa ini sirna

Aku juga tahu bahwa ini adalah sebuah dosa
Tak seharusnya aku mencinta untuk yang kedua
Tak seharusnya pula aku menyakiti mereka
Ini jelas salahku yang terjebak pada rasa

Atau…. mungkinkah ini hanya angan belaka?
Karena terlanjur mencinta dan tak rela sirna
Lantas ku piara ia jauh di dasar dada

Bila sepi mendera ku hadirkan ia tuk temani jiwa
Ku sapa ia ku ajak bercerita tersenyum bersama
Mungkin aku gila tapi aku sadar sepenuhnya
Bahwa rasa itu ada

Berulang kali ku coba mengusirnya tapi aku tak bisa
Mungkinkah ini angan belaka ataukah sejatinya rasa?

Senin, 06 Agustus 2012

Aku Terlupa



Lihatlah, apakah benar itu kotamu?
Sungguh jauh dari sini tapi aku bisa melihatnya
Dan itu mengingatkanku akan masa laluku
Yang telah terlupa olehku

Melihat rimbunnya pepohonan di sana
Aku terlupa bagaimana rasanya masuk ke hutan
sekedar mencari ranting kayu yang telah mengering
mengumpulkannya lalu membawanya pulang
bersama kawanku lalu ia akan berkata pada ibunya
mak… ini ranting kayu buat memasak besok

Masih tentang hutan
aku terlupa bagaimana rasanya bermain ditepiannya
mengambil bunga mahoni lalu menerbangkannya ke atas
bersama kawan-kawanku tertawa sebab ia berputar-putar seperti baling-baling
aku juga terlupa bagaimana rasanya menunggu di teriknya sinar matahari
menunggu buah munggur yang jatuh dari pohon
mengumpulkannya, memecahkan isinya lalu memasaknya
di saat musim hujan ku bayangkan bagaimana rasanya
berbasah-basahan memunguti ulat daun jati tapi aku terlupa

Tentang lautan
aku terlupa akan indah pantainya
dahulu ku tempuh perjalanan berjam-jam lamanya
terguncang di atas motor berkonvoi beriringan saling menyalip
hanya untuk mencapai tepianmu
bersama kawan-kawanku lantas bermain pasir
berbasah-basahan berpose bergaya dan berfoto
suatu kegembiraan yang aku sudah terlupa akan rasanya

Dan jalan disepanjang tepian pantai itu
lihatlah......
akupun terlupa akan ilmu yang pernah aku dapatkan
tentang konstruksi tentang kekuatan tentang reklamasi
padahal untuk mendapatkan selembar kertasnya aku butuh pengorbanan

Entahlah.....
sebagian dari masa laluku dengan mudahnya aku bisa terlupa
dan dirimu adalah juga bagian dari masa laluku
ku berharap akan dengan mudah bagiku tuk melupakanmu

Jumat, 03 Agustus 2012

Tahukah Kau?




pernah aku melihat sebuah kisah yang menyedihkan

di pagi itu matahari bersinar cerah
di dahan pohon mangga depan rumah
ku dengar suara kicau burung, renyah
lantas ku cari di mana letak suara itu berasal
tapi tak terlihat olehku burung yang sedang bernyanyi
kecuali dahan-dahan yang bergerak pelan
mendengarnya, aku pikir betapa bahagianya mereka
bernyanyi dengan riangnya

namun sesaat kemudian aku melihat
dua ekor burung yang (mungkin) sedang berpelukan terjatuh
sampai di bawah salah satu dari mereka diterkam oleh kucing
darahpun seketika berceceran mengikuti langkah pergi si kucing

Tahukah kau?
Aku menduga dua ekor burung tadi sedang bercinta
Lantas terjatuh dan salah satu dari mereka mati
Dan tahukah kau,
Apa yang kau rasakan ketika tiba-tiba harus kehilangan
Sekejap… sesaat setelah kau merasa bahagia
Lantas merasakan kehilangan yang teramat sangat

Aku Ilalang yang Selalu Ramai Dalam Kesendirian



Ku merasakan bahagia dalam setiap lukisan-lukisan yang aku ciptakan terhadap kehidupan
Pada mereka yang ada disekitarku, pada orang lain yang ku letakkan di hatiku
Aku... merasakan bahagia saat mereka bahagia, aku merasa sedih saat mereka sedih

Tapi waktu telah membawaku ke sebuah impian yang tak pernah aku bayangkan
mungkin juga pade sesuatu yang telah aku lupakan
Ilalang kini ingin menjadi sebuah tumbuhan
seperti tumbuhan lain yang dapat menjadikan dirinya perhatian
menjadikan dirinya suatu kebanggaan,
yang ingin memilih dengan siapa dia selaras, dengan siapa yang dia merasa bangga
Dulu keinginanku adalah mereka, mereka adalah inginku
karena aku merasa tiada mempunyai apapun yang membuatku bisa memilih
Waktu telah membawaku merasa memiliki merasa bisa memilih

Tapi terasa sakit ketika aku merasa bisa memilih
terasa perih saat ku tahu bahwa ku tak dapat memilih
Ilalang adalah ilalang
yang sederhana tiada ketertarikan dalam wujud dan tiada wewangian