Rabu, 26 September 2012

Tanyaku


Hari itu masih terlalau pagi buatku
Namun ibuku sudah membangunkan ku
Memandikanku lantas menyuapiku
Tidak seperti biasanya ibu melakukan ini padaku

Saat pagi menjelang
Ketika semua saudaraku sudah berangkat sekolah
Ibuku pun lekas bergegas
Dengan sebuah tas yang menggantung di bahu kanan
Dan menggendongku di sebelah kiri
Bergegas meninggalkan rumah
Berjalan menyusuri lorong-lorong sempit
Hingga tibalah pada suatu tempat

Tempat apa ini?
Sinarnya begitu terang hingga menyilaukan mataku
Dan kenapa ada suara-suara yang begitu bising
Owh, kenapa angin juga begitu panas menyentuh kulitku
Bau apa ini kenapa tercium sangat menusuk hidungku
Ibu, di mana aku? tempat apa ini ibu?

Ibu, apa yang sedang ibu ucapkan
Aku tidak mendengar ibu sedang menimangku
Ataupun gurauan yang selalu membuatku tertawa
Apakah ibu sedang berbicara dengan orang lain
Tapi kenapa ucapan yang aku dengar selalu sama
Ibu, apa yang sedang ibu lakukan?

Aku gelisah tubuhku kegerahan
Entah mengapa serasa tidak nyaman di pelukan ibuku
Sembari berjalan kesana kemari
Sesekali ibuku menepuk-nepuk punggungku menenangkanku
Ibu berteduhlah sejenak
Aku lelah dan aku ingin tidur sebentar


http://fiksi.kompasiana.com/puisi/2012/09/26/tanyaku/

Senin, 10 September 2012

Impian Konyol




Tidak sedang menahan hajat hanya saja…..
Sudah miripkah tampangku dengannya?
Seperti orang bodoh tapi sesungguhnya nehi nehi
Hanya karena sedang punya impian yang tak mungkin
Maka sepertiitulah tampagku

1/
Andai mesin waktu itu ada
Aku akan pergi ke masa-masa yang aku suka
Masa remaja saat semua belum sia-sia
Akan ku perbaiki segalanya
Tentang cinta tentang cita-cita
Hingga sejarahku menjadi bahagia

Terbang kembali ke masa yang lalu
Serasa terbang bersama sang elang
Melihat ke bumi melihat semua yang pernah terjadi
                                                                                                                                                                         
2/
Andai doraemon itu nyata dan aku punya
Kan kuminta sebuah pintu darinya
Lalu kan ku tempatkan di dinding kamarku
Saat hendak pergi kan ku bayangkan siapa yang kutuju
Aku buka pintu lalu masuk dan keluar bersamamu

Berkat pintu jauhnya jarak menjadi tak berarti
Tak akan pernah ada rindu yang membelenggu hati

3/
Masih tentang doraemon
Andai aku punya dua baling-baling bambu
Satu untukku dan satunya akan ku berikan kepadamu
Akan ku ajak dirimu terbang melintasi cakrawala biru
Berkejaran menembus awan hingga menyentuh senja nan menawan

Saat kau tak mau baling-baling akan ku simpan di hati
Aku akan terbang sendiri melintasi jalan-jalan sepi
Sebab sendiri bukan berarti sepi

Jumat, 07 September 2012

Maafkan kelakuan kami i…i…i…i…..




Kami hanya rakyat miskin yang tak berarti
Hanya sepeda motor ini yang kami punyai
Maafkan kelakuan kami saat mengendarai
Demi menepati janji tak terlambat dan dimarahi
Demi mencari uang untuk membeli nasi
Kami sering merajai jalan-jalan negeri

Saat jalanan macet kami tak mau antri
Kami tetap melaju hingga kendaraan saling mengunci
Tak kalah licik, kadang kami pun merampas hak pejalan kaki
Trotoar kami tunggangi selip kanan selip kiri
Hadirnya kami semakin memperparah situasi

Saat lampu traffic hendak menghentikan kami
Terkadang  kami malah mempercepat laju tuk melarikan diri
Dan saat lampu belum mengijinkan kami tuk lari
Waktu sudah kami curi untuk melanjutkan perjalanan ini

Kami tahu itu sangat membahayakan diri
Tapi kenyataanya begitulah kami
Bukan kami tak mau menaati peraturan pilosi
Tapi itupun sudah menjadi kebiasaan kami
Pak polisi jika melihat  ini jangan tangkap kami
Karena kami tidak punya uang untuk membayar upeti

Hihihihihihihih………………….

Anak Lelaki Ku



1/
Anak lelakiku
Dalam dekap mesraku ada harapku untukmu
Dalam tidur lelapmu ada doaku untukmu

Anak lelakiku
Engkau sebuah karunia indah untukku
Hadirmu pengobat luka atas kehilanganku
Akan ku jaga dirimu selalu

2/
Dancing with my son
Menari denganmu adalah hal yang paling aku suka
Walau kau belum bisa tegak berdiri itu tak mengapa
Karena setiap saat kau bisa ku dekap mesra dan berdansa

Kau sandarkan kepalamu di atas lenganku
Dadamu… dadaku… melekat menjadi satu
Hingga bisa kurasakan debar jantungmu

Kau tatap mataku aku balas menatapmu
Bening matamu membuatku jauh melihat kedalam hatimu
Kau tersenyum padaku aku balas senyummu
Senyum yang hadirkan kesejukan dan kebahagiaan untukku

Dalam dekapku mulai kulangkahkan kakiku
Bergerak pelan ke depan dan kebelakang
Sesekali ku ambil langkah berputar
Aku lirik dirimu kau tersenyum melihatku

Kadang juga ku dendangkan sebuah lagu
Mengiringi langkahku menari bersamamu
Tak jarang kau tertidur dalam pelukanku

Anakku………..

Rabu, 05 September 2012

Rindu Setetesmu



Kurindukan setetesmu dalam dahagaku
Jika sudah begini siapa yang bisa ku salahkan
Hujan yang selalu kuinginkan tak juga datang
Mendung selalu berlalu tanpa menghiraukan pintaku
Anginpun tak bersahabat hadirnya semakin membuatku sekarat

Kemana ku harus mencari setetesmu untuk dahagaku
Sudah terlau lama aku menunggu dari sekian waktu berlalu
Rindu… rindu… rindu….. itu yang kurasakan untukmu
Seribu pesan pun berlalu dan semuanya  menjadi beku

Rinai hujan…. datanglah dan basahilah bumi
Sejukmu masih kunanti

Kecemburuan Ilalang




Ilalang hanya mampu menatap
Langit di atas yang bagaikan atap
Indah… terbentang luas tak berbatas

Kala senja, ada rona merah yang mengoda jiwa
Kala malam, ada gemintang yang bersinar terang
Kala siang, ada lautan biru yang menyejukkan kalbu
Saat  hujan ada kalanya pelangi yang menghiasi mimpi

Tidak seperti ilalang yang seraya layu tertunduk  malu
Terhempas angin dalam padang yang gersang
Menguning kering lantas mati